Di era konektivitas tanpa batas ini, Anda mungkin pernah merasakannya: jam 11 malam, Anda hanya berniat memeriksa notifikasi sebentar, tetapi satu jam kemudian, Anda masih terjebak. Anda terus-menerus memuat ulang laman, mencerna satu berita buruk ke berita buruk lainnya—mulai dari krisis politik global hingga bencana alam—tanpa bisa menghentikan diri.
Fenomena inilah yang disebut Doomscrolling (menggulir berita buruk). Doomscrolling didefinisikan sebagai tindakan mengonsumsi berita negatif dalam jumlah besar dan berlebihan secara online, yang seringkali dilakukan secara kompulsif dan berpotensi memicu konsekuensi buruk pada suasana hati dan mental.
Ini bukan sekadar kebiasaan buruk, ini adalah lingkaran setan yang secara aktif merusak fondasi kesehatan mental Anda.
Mengapa Kita Terjebak dalam Siklus Negatif?
Meskipun aktivitas ini terasa menyakitkan, ada alasan psikologis mengapa otak kita sulit melepaskannya:
1. Bias Negatif (Negativity Bias)
Secara evolusioner, otak manusia diprogram untuk memproses informasi negatif lebih kuat dan lebih cepat daripada informasi positif. Nenek moyang kita yang fokus pada ancaman (bahaya di semak-semak) memiliki peluang bertahan hidup lebih tinggi. Di dunia modern, ancaman tersebut berubah menjadi berita buruk di layar, yang menciptakan kebutuhan kompulsif untuk tetap tahu agar merasa siap.
2. Efek Fight-or-Flight yang Persisten
Berita-berita buruk terus-menerus memicu respons “melawan atau lari” (fight-or-flight) dalam tubuh. Tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Tubuh Anda siap menghadapi bahaya, tetapi karena bahaya itu adalah teks di layar, respons tersebut tidak pernah terpenuhi, meninggalkan Anda dalam kondisi cemas yang kronis.
💔 5 Dampak Doomscrolling pada Kesehatan Mental
Menggulir tanpa henti melalui berita negatif memiliki konsekuensi yang nyata, di luar perasaan sedih sesaat.
1. Peningkatan Kecemasan dan Stres Kronis
Paparan konstan terhadap krisis global (yang berada di luar kendali pribadi Anda) menjaga sistem saraf Anda dalam keadaan tegang. Ini dapat bermanifestasi sebagai kecemasan umum, kesulitan berkonsentrasi, detak jantung meningkat, dan bahkan sakit kepala tegang.
2. Gangguan Tidur dan Pola Tidur
Banyak orang melakukan doomscrolling sebelum tidur. Selain cahaya biru (blue light) dari layar yang menekan produksi melatonin (hormon tidur), membanjiri pikiran dengan informasi yang memicu stres justru mengaktifkan otak saat seharusnya beristirahat. Akibatnya, sulit tidur, atau tidur menjadi tidak nyenyak dan sering terbangun.
3. Kelelahan Emosional (Compassion Fatigue)
Ketika Anda terus-menerus terpapar penderitaan skala besar (bencana, perang, kemiskinan), otak akan mengalami kelelahan. Untuk melindungi diri, otak mungkin merespons dengan mati rasa atau sinisme. Anda merasa terlalu lelah untuk peduli pada masalah kecil di sekitar Anda, dan merasa dunia adalah tempat yang sepenuhnya buruk.
4. Learned Helplessness (Ketidakberdayaan yang Dipelajari)
Melihat masalah-masalah global yang begitu besar dan kompleks (seperti perubahan iklim, korupsi politik) tanpa ada solusi yang jelas dapat memicu perasaan ketidakberdayaan yang dipelajari. Anda mulai merasa bahwa tindakan pribadi Anda tidak berarti apa-apa, yang berujung pada depresi, kepasifan, dan hilangnya motivasi untuk terlibat dalam hal-hal positif.
5. Mengikis Batasan Antara Dunia Nyata dan Dunia Maya
Doomscrolling membuat otak sulit membedakan antara ancaman yang dekat (masalah di kantor atau rumah) dengan ancaman yang jauh (krisis ribuan kilometer jauhnya). Hal ini menciptakan rasa bahaya yang berlebihan terhadap lingkungan terdekat, membuat Anda lebih mudah tersinggung, dan mengurangi optimisme harian.
🛡️ Bagaimana Memutus Siklus Doomscrolling
Kabar baiknya, Anda dapat mengambil kembali kendali atas kebiasaan konsumsi berita Anda. Membangun “mental juara” di sini berarti menetapkan batasan yang tegas.
1. Tetapkan Batas Waktu yang Ketat (Time Blocking)
Gunakan fitur batas waktu aplikasi (app limits) pada ponsel Anda untuk membatasi akses ke media sosial atau aplikasi berita.
-
Terapkan Blackout Zone: Larang diri Anda membuka berita atau media sosial satu jam setelah bangun dan satu jam sebelum tidur. Ini melindungi momen krusial transisi antara tidur dan aktivitas, serta antara aktivitas dan tidur.
2. Kurasi Sumber Berita Anda
Unfollow atau mute akun-akun yang secara konsisten memposting konten yang memicu kecemasan atau bersifat sangat sensasional.
-
Cari Solution-Based Journalism: Cari sumber berita yang tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga menyoroti solusi, inisiatif positif, dan kemajuan yang terjadi di dunia.
3. Terapkan Konsumsi Berita yang Berkesadaran (Mindful Consumption)
Sebelum membuka aplikasi, tanyakan pada diri Anda:
-
“Apakah informasi ini penting untuk pekerjaan/keluarga saya saat ini?”
-
“Apakah ada tindakan yang dapat saya lakukan setelah mengetahui informasi ini?”
-
“Jika tidak, apakah ini hanya akan meningkatkan kecemasan saya?”
Jika jawabannya adalah “Ya, akan meningkatkan kecemasan,” segera tutup aplikasi dan ganti dengan aktivitas yang membumi (grounding), seperti peregangan, mendengarkan musik, atau berbicara dengan teman.
Mengambil alih kendali atas kebiasaan doomscrolling adalah langkah penting dalam memprioritaskan ketenangan mental Anda di tengah hiruk pikuk informasi global.
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]





