Selama bekerja sama dengan para associate trainer dalam 3 tahun terakhir, saya mencoba untuk mengidentifikasi beberapa tipe fasilitator yang kami lihat berdasarkan observasi dan hasil evaluasi akhir:

1. Model Fasilitator Theories. Biasanya orangnya sangat detil yang kuat dalam menjelaskan sesuatu berdasarkan referensi-referensi terpercaya, penjelasannya runtut sistematis dan tidak ada satupun slide yang terlewati.

Positifnya adalah bagi audiens yang cenderung compliance mereka akan sangat terfasilitasi karena kehausan mereka akan pengetahuan baru dan ilmu yang sistematis lebih terpuaskan.

Negatifnya jika bertemu dengan audiens yang cenderung influence akan terasa kaku dan biasanya mereka mengeluhkan suasana kelas tidak hidup atau boring.

2. Model Fasilitator Entertainer. Biasanya lebih mengedepankan suasana sehingga baik dalam penggunaan musik, penggunaan games, penggunaan aktivitas yang mendorong motivasi sangat tinggi. Ia juga cenderung lebih banyak menggunakan metode interaktif untuk mengajak dan menangkap respons dari peserta.

Positifnya ketika berhadapan dengan tipe-tipe peserta yang influence akan memberikan dampak positif, karena mendorong motivasi mereka terangkat dan membangun suasana yang menyenangkan.

Negatifnya sering kurang kuat dalam menyajikan teori sehingga hal yang harusnya didapatkan oleh peserta menjadi agak kabur dan akan muncul dari hasil evaluasi adalah kurang memahami pengetahuan yang disampaikan, kurang menjelaskan detil mengenai kiat-kiat bagaimana cara melaksanakannya.

3. Model Fasilitator Simulasi. Biasanya fasilitator seperti ini lebih mengedepankan Bagaimana sebuat tools simulasi itu digunakan sebagai alat pembelajaran yang bisa memberikan insight yang kuat kepada para peserta. Dalam pelatihan 1 hari biasanya menggunakan 1 simulasi yang dimainkan hingga 3 sampai 4 jam di mana semua peserta terlibat penuh dalam menganalisa, mengevaluasi, melakukan brainstorm terhadap permasalahan mereka dan fasilitator hanya berperan sebagai pengamat, pengarah dan narasumber saja.

Positifnya kelas menjadi Sangat terbuka dan interaksi dimana setiap peserta bisa mengungkapkan ide gagasan atau permasalahan mereka. Hal ini karena memang mereka diberi kesempatan secara bergiliran dan ini membuat peserta merasa lebih terbuka dan bisa membuat peserta mau berinteraksi.

Negatifnya seringkali fasilitator tidak terlalu konsen dalam menjelaskan konsep teori dan ini akan muncul dari adanya beberapa statement dalam evaluasi adalah “lalu kami harus bagaimana selanjutnya” ” lalu kalau kau menghadapi situasi seperti ini sebaiknya konsep mana yang kami gunakan”. Masih ada beberapa hal yang menggantung.

4. Model Fasilitator Storytelling adalah fasilitator yang sering menggunakan perumpamaan perumpamaan melalui cerita-cerita yang aktual di masyarakat saat ini dan menggugah peserta untuk mau terus penasaran dengan apa yang disampaikan. Biasanya cerita tentang teknologi terbaru konsep industri terbaru konsep strategi strategi terbaru yang disampaikan dengan sangat rinci disertai template PowerPoint yang menarik untuk di ketahui.

Positifnya bagi peserta yang masih baru mereka akan sangat tertarik dengan pengetahuan yang baru. Bagi mereka.

Negatifnya peserta tidak belajar setelah detil hal hal yang harus mereka lakukan sebagai pekerja di suatu perusahaan atau orang yang mengembangkan kemampuannya.

5. Model Fasilitator Sentralistik. Biasanya mereka lebih ingin menunjukkan eksistensi dirinya dengan menceritakan banyak sekali keberhasilan yang ia lakukan di masa lalu dan setiap gagasan yang ia jelaskan kepada peserta biasa dikaitkan dengan pengalaman yang pernah ia lakukan dulu. Pada saat Ia menceritakan pengalamannya memang cukup membuat peserta antusias karena dia menceritakan dengan detil rinci bagaimana proses itu dia lakukan dan lain sebagainya.

Positifnya adalah peserta mendapat input pengalaman-pengalaman yang aktual sehingga mereka bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh fasilitator atau keberhasilan.

Negatifnya adalah peserta kurang ditanamkan mengenai problem solving, sehingga peserta bisa terjebak hanya meniru situasi yang pernah dialami oleh fasilitator, dibandingkan dengan menganalisis sendiri secara kritis masalah yang ada di perusahaan masing-masing.

Ini adalah 5 model fasilitator yang saya amati selama ini. Namun demikian saya menganggapnya sebagai variasi dari pembelajaran kita semua, karena bagaimanapun juga fasilitator tentunya akan mengembangkan ciri ciri khas tersendiri namun yang terbaik adalah bagaimana kita belajar untuk mengombinasikan dari berbagai macam ciri ini sehingga kita bisa menjadi fasilitator yang cukup mumpuni karena menguasai berbagai macam aktivitas dan metode yang tentunya akan sangat bervariasi untuk setiap kelompok peserta.

ditulis oleh Andreas Imawanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *