“Pak, tolong dong tegur anak buah saya. Kalau dari HRD biasanya mereka lebih nurut.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah didengar oleh banyak praktisi HR.
Lucunya, yang meminta justru seorang manager.
Awalnya terdengar biasa. Tapi kalau dipikir lagi, ada pertanyaan yang cukup mengganggu.
Kenapa karyawan lebih takut HR daripada atasan langsungnya?
Kalau sampai seperti itu, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku karyawannya, tetapi juga cara seorang leader memimpin.
HR Bukan Polisi Perusahaan
Masih banyak perusahaan yang tanpa sadar menjadikan HR sebagai “polisi”.
Karyawan terlambat? HR.
Target tidak tercapai? HR.
Ada konflik? HR.
Padahal HR bertugas membangun sistem dan memastikan aturan berjalan, bukan menjadi orang yang setiap hari mengingatkan perilaku anggota tim.
Kalau semua masalah dilempar ke HR, lalu apa peran leader?
Menegur Itu Salah Satu Tugas Leader
Menjadi atasan bukan hanya soal membagi pekerjaan atau mengejar target.
Leader juga bertanggung jawab memberikan feedback, mengoreksi perilaku, membangun disiplin, dan membantu tim berkembang.
Artinya, ketika ada anggota tim yang perlu ditegur, orang pertama yang seharusnya berbicara adalah atasan langsungnya.
Bukan HR.
Karena feedback dari leader jauh lebih bermakna dibanding teguran dari departemen lain.
Kenapa Banyak Leader Menghindarinya?
Jawabannya sederhana.
Karena tidak nyaman.
Takut hubungan jadi canggung.
Takut dianggap galak.
Atau merasa lebih aman kalau HR yang menyampaikan.
Padahal semakin sering leader menghindari percakapan sulit, semakin lemah pula kepemimpinannya di mata tim.
Karyawan Tidak Harus Takut, Tapi Harus Respek
Leader tidak perlu menjadi sosok yang ditakuti.
Yang lebih penting adalah dihormati.
Takut membuat orang patuh ketika diawasi.
Respek membuat orang tetap bertanggung jawab meskipun tidak ada yang melihat.
Dan rasa hormat itu dibangun dari keberanian leader memberikan arahan, feedback, dan koreksi secara langsung.
Jadi, Kapan HR Harus Turun Tangan?
HR tentu tetap punya peran.
Namun biasanya ketika masalah sudah masuk ke ranah formal, seperti pelanggaran berulang, investigasi, konflik serius, atau proses disiplin sesuai kebijakan perusahaan.
Di luar itu, peran utama tetap ada di tangan atasan langsung.
Karena leader membangun orang, sedangkan HR membangun sistem.
Kalau setiap masalah kecil selalu diselesaikan HR, jangan heran kalau suatu saat karyawan lebih segan kepada HR daripada kepada atasannya sendiri.
Dan ketika itu terjadi, yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem HR, tetapi juga kualitas kepemimpinan di dalam organisasi.
Ingat, menegur bawahan bukan tugas HR. Itu adalah salah satu bentuk tanggung jawab seorang leader.