Oleh: Tim Riset AND
BANDUNG — Di tengah maraknya program pengembangan sumber daya manusia di berbagai perusahaan, ada satu realitas yang jarang dibicarakan oleh para penyedia jasa training dan konsultan HR: proses pencarian vendor yang berakhir tanpa kepastian.
Di kalangan praktisi, fenomena ini sering disebut sebagai “ghosting korporat”; situasi ketika vendor diminta menyiapkan proposal secara detail, bahkan melakukan beberapa kali revisi, tetapi pada akhirnya proses pengadaan berhenti tanpa kejelasan.
Persaingan Vendor yang Semakin Ketat
Industri training dan HR consulting di Indonesia kini semakin ramai. Banyaknya lembaga pelatihan, konsultan independen, hingga penyedia jasa pengembangan SDM membuat perusahaan memiliki banyak pilihan vendor.
Kondisi ini sering digambarkan dengan ungkapan sederhana: “potongan roti sedikit, tetapi mulut yang menunggu sangat banyak.” Persaingan menjadi sangat ketat, sementara jumlah proyek yang tersedia tidak selalu sebanding.
Dalam situasi seperti ini, terutama perusahaan melalui bagian procurement; memiliki posisi yang lebih kuat dalam menentukan proses seleksi vendor. Namun dalam praktiknya, proses tersebut tidak selalu diikuti dengan komunikasi yang jelas kepada para penyedia jasa yang ikut berpartisipasi.
Siklus Proposal Tanpa Kepastian
Banyak vendor menceritakan pengalaman yang hampir serupa. Setelah pertemuan awal atau diskusi kebutuhan, mereka diminta menyusun proposal yang cukup rinci. Tidak jarang proposal tersebut kemudian diminta untuk diperbarui beberapa kali, mulai dari penyesuaian kurikulum, metode pelatihan, hingga rincian biaya.
Padahal, menyusun proposal bukan sekadar menyiapkan dokumen formal. Di dalamnya ada proses analisis kebutuhan, perancangan program, hingga ide-ide pengembangan yang membutuhkan waktu dan pemikiran yang tidak sedikit.
Namun setelah semua itu dilakukan, komunikasi terkadang berhenti begitu saja tanpa kabar lanjutan.
Etika Procurement dan Citra Perusahaan
Cara perusahaan memperlakukan vendor pada akhirnya juga mencerminkan profesionalisme organisasinya. Dalam komunitas industri yang relatif kecil seperti training dan HR consulting, pengalaman para vendor sering kali membentuk reputasi mereka di mata para praktisi.
Memberikan kepastian, baik berupa penerimaan maupun penolakan, sebenarnya adalah bentuk komunikasi profesional yang sangat sederhana. Sebuah pemberitahuan singkat kepada vendor sering kali sudah cukup untuk menunjukkan penghargaan terhadap waktu dan upaya yang telah mereka berikan.
Pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang efisiensi biaya. Ia juga menyangkut integritas dan penghargaan terhadap kerja profesional di balik setiap lembar proposal.





