Pernah mempromosikan top performerโmisalnya sales terbaikโmenjadi manajer, lalu justru kehilangan sales unggulan dan mendapatkan manajer yang tidak efektif?
Situasi seperti ini cukup sering terjadi. Salah satu penyebabnya adalah cara organisasi menggunakan 9-Box Matrix.
Secara konsep, 9-Box memetakan karyawan berdasarkan kinerja (performance) dan potensi (potential). Namun dalam praktiknya, banyak organisasi tanpa sadar menyamakan keduanya.
Padahal keduanya berbeda.
Kinerja menunjukkan hasil saat iniโseberapa jauh target atau KPI tercapai.
Potensi berkaitan dengan kapasitas masa depanโkemampuan belajar, kedewasaan emosional, dan kesiapan menghadapi tanggung jawab yang lebih kompleks.
Seseorang bisa sangat unggul sebagai spesialis, tetapi belum tentu siap memimpin tim, mengelola konflik, atau mengambil keputusan strategis. Namun label high potential sering muncul hanya karena seseorang baru saja mencatatkan kinerja yang sangat tinggi.
Di sinilah jebakan terjadi !
Orang yang kuat sebagai individual contributor didorong masuk ke jalur manajerial, lalu performanya justru menurun. Fenomena ini dikenal sebagai Peter Principle: seseorang terus dipromosikan hingga mencapai posisi yang melampaui kapasitasnya.
Pada akhirnya, talent mapping bukan sekadar aktivitas administratif HR. Keputusan yang dibuat hari ini akan sangat memengaruhi kualitas pemimpin organisasi di masa depan.





