GROWTH MINDSET LEARNING

Terkadang, seseorang dapat berhasil dalam pekerjaan atau bisnisnya justru karena menguasai soft skills atau keahlian-keahlian non-akademik. Keahlian-keahlian ini misalnya kecerdasan emosional, kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, berbahasa, dan sebagainya. Kemampuan memecahkan masalah atau problem solving pun merupakan salah satu bentuk dari soft skill yang dibutuhkan.

Memasuki revolusi industri ke empat, percepatan teknologi akan mengubah cara kita hidup  dan bekerja, selain memberikan berbagai peluang dan kemudahan baru, kemajuan ini memunculkan banyak problem yang sulit dipecahkan. Untuk bisa tetap bersaing dan profesional, para pekerja masa kini. Harus mempunya skill tertentu diantaranya adalah complex problem solving. Kemampuan memecahkan problem yang kompleks ini akan menjadi salah satu kemampuan terpenting bagi working millennials di tahun 2020 (The World Economic Forum). Kemampuan complex problem solving ini, membuat kita untuk segera beradaptasi dan memahami masalah-masalah kompleks yang hadir di sekitar kita.

Yang paling penting dalam complex problem solving yaitu adalah maindset (pola pikir).  Carol Dweck mengatakan bahwa manusia memiliki dua tipe pola pikir. Yang pertama kecerdasan merupakan bawaan dari lahir atau biasa disebut sebagai fix mindset dan kecerdasan berdasarkan suatu perjalanan ataupun proses yang biasa disebut growth mindset.  Kita sering melihat orang-orang seperti atlit-atlit yang paling hebat didunia, mereka bukan saja lahir dari talenta yang luar biasa. Jika, mereka percaya talenta merupakan bawaan dari lahir, maka mereka tidak memerlukan latihan dan langsung menjadi atlit yang hebat (instan) karena itu merupakan bawaan dari lahir. Namun, seorang atlet yang terbaik dan terhebat sekalipun pasti bangun pagi-pagi sekali dan berlatih dan terus berlatih mengalahkan rekor dirinya sendiri. Growth mindset dapat diasah dengan cara kita berlatih secara terus-menerus (Practice Makes Perfect).

Carol Dweck mengatakan juga bahwa ternyata cara kita mendidik anak dapat mempersiapkan anak menjadi pola pikir Growth Mindset. Ataupun pola pikir fix mindset. Misalnya ketika anak datang dengan membawa nilai matematikanya bagus dan orang tua memuji nilainya bukan memuji prosesnya, maka anak tanpa sadar akan mengetahuinya bahwa untuk pelajaran matematika memang terlahir jenius (fix mindset). Dan jika anak tersebut datang dengan membawa nilai keseniannya adalah C, maka ia merasa bahwa ia memang tidak berbakat, maka tanpa disadari dalam situasi ini anak ini akan memikirkan bahwa jika dipuji adalah hasil, dia akan merasa dia lahir karena pintar ataupun berbakat. Maka yang sebenarnya ketika anak itu berhasil atau gagalpun harus di koreksi adalah prosesnya. Kalau misalnya anak hanya dapat nilai C, orangtua mengatakan bahwa “nak kamu belum berhasil, jangan patah semangat dan berkecil hati masih ada ujian berikutnya kamu bisa mencoba lebih baik, maka anak itu akan mengetahui bahwa hasil itu bukan akhir dari segalanya. Apapun outputnya masih bisa berubah. Mindset seperti inilah yang harus ditanamkan karena tidak ada satupun manusia yang sebenarnya lahir menjadi growth mindset ataupun fix mindset, namun setiap hari itulah adalah proses. ‘Jika kamu berpikir kamu bisa dan jika kamu berpikir kamu benar-benar tidak bisa, keduanya adalah benar’. Jika kita berpikir perjalanan hidup adalah proses, maka kita yakin kita pasti bisa, karena dari pikiran seperti itulah otak akan membantu mencari jalan atau apapun itu caranya. Tetapi jika di hari itu kita berpikir kita tidak bisa, maka dari situ jugalah kita sudah gagal. Mindset problem solving  seperti ini bisa menjadi soft skill yang mungkin jadi penyelamat hidup anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *