Tim tidak selalu kehilangan motivasi.
Kadang, pemimpinnya yang sudah kehabisan energi.
Seorang manager dituntut untuk:
menjaga semangat tim,
menyelesaikan konflik,
mengejar target,
memberikan feedback,
mengembangkan orang,
menjelaskan keputusan manajemen,
dan tetap tenang ketika keadaan tidak baik-baik saja.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan:
“Bagaimana kondisi manager-nya sendiri?”
Kelelahan seorang pemimpin tidak selalu terlihat seperti burnout.
Kadang terlihat sangat normal.
Dia masih datang ke kantor.
Masih ikut meeting.
Masih membalas chat.
Masih membuat laporan.
Masih mengatakan, “Siap.”
Tetapi perlahan ada yang berubah.
Coaching mulai berkurang.
Feedback hanya muncul ketika ada kesalahan.
Meeting semakin transaksional.
Komunikasi semakin singkat.
Delegasi berubah menjadi sekadar:
“Tolong kerjakan ini.”
Dan leadership perlahan berubah menjadi…
survival mode.
Gallup menunjukkan bahwa engagement manager secara global mengalami tekanan serius.
Ini penting karena manager bukan hanya satu posisi dalam struktur organisasi.
Manager adalah jembatan antara strategi perusahaan dan pengalaman sehari-hari karyawan.
Ketika manager kehilangan energi, dampaknya jarang berhenti pada dirinya sendiri.
Energi itu menular ke tim.
Begitu juga dengan kelelahan.
Masalahnya, ketika engagement tim menurun, organisasi sering langsung bertanya:
“Apa yang salah dengan karyawan kita?”
Lalu dibuatlah:
employee gathering,
reward program,
motivational session,
town hall,
atau berbagai program engagement lainnya.
Tidak salah.
Tapi mungkin kita juga perlu bertanya:
“Apakah manager mereka masih punya energi untuk memimpin?”
Karena sulit meminta seseorang:
“Motivasi timmu.”
ketika dirinya sendiri kehilangan motivasi.
Sulit mengatakan:
“Dengarkan anggota timmu.”
ketika dia sendiri merasa tidak pernah didengarkan.
Dan sulit meminta:
“Develop your people.”
ketika seluruh waktunya habis untuk meeting, reporting, firefighting, dan mengejar deadline.
Ada satu hal yang juga sering kita keliru.
Ketika kemampuan manager dianggap menurun, solusi pertama sering kali:
training leadership.
Padahal tidak semua masalah leadership adalah masalah kompetensi.
Kadang masalahnya adalah:
Capacity.
Beban kerja yang terlalu besar.
Clarity.
Terlalu banyak prioritas yang semuanya dianggap urgent.
Support.
Manager diminta melakukan coaching, tetapi tidak pernah mendapatkan coaching.
Trust.
Diberi tanggung jawab besar, tetapi ruang pengambilan keputusannya kecil.
Energy.
Sudah terlalu lama menjadi tempat semua orang bersandar.
Training tetap penting.
Tetapi leadership development tanpa leadership environment yang sehat tidak akan cukup.
Memimpin memiliki energy cost.
Mendengarkan membutuhkan energi.
Memberikan feedback membutuhkan energi.
Menghadapi konflik membutuhkan energi.
Mengambil keputusan sulit membutuhkan energi.
Menjaga ketenangan ketika tim sedang panik juga membutuhkan energi.
Karena itu, organisasi tidak bisa terus meminta manager menjadi sumber energi bagi semua orang, sementara tidak pernah memikirkan bagaimana mengisi kembali energinya.
Mungkin pertanyaan leadership kita perlu berubah.
Bukan hanya:
“Bagaimana membuat manager lebih accountable?”
Tetapi juga:
“Apa yang kita lakukan agar manager tetap kuat untuk memimpin?”
Karena terkadang sebuah tim tidak memiliki pemimpin yang buruk.
Mereka hanya memiliki…
an exhausted manager.
Untuk para leader dan manager:
Pernahkah Anda berada di fase ketika masih mampu bekerja, tetapi sudah tidak punya cukup energi untuk benar-benar memimpin?